jurnal akuntansi 1

Posted: 22 April 2010 in Uncategorized

http://akuntansi.usu.ac.id/jurnal-akuntansi-26.html

PENGARUH DEBT TO TOTAL ASSETS RATIO, QUICK RATIO, NET PROFIT MARGIN, RETURN ON INVESTMENT DEBITUR TERHADAP PENYALURAN KREDIT MODAL KERJA

PADA PT. BNI (PERSERO) TBK. MEDAN

ANNA SAFITRI

Fakultas Ekonomi Universitas Sumatera Utara

TAPI ANDA SARI LUBIS

Fakultas Ekonomi Universitas Sumatera Utara

The objective of this research is to examine the effect if leverage, liquidity, and profitability ratio to working capital credit at PT. BNI (Persero) Tbk Medan. Leverage is represented by Debt to Total Assets Ratio, liquidity is represented by Quick Ratio and profitability is represented by Net Profit Margin and Return On Investment. These financial ratios are used by creditor to make decision for credit approval.

This research uses purposive sampling method The secondary data are taken from debitur’s financial ratios.  This research used simple regression and multiple regression as analysis model.  The statistic method being used is multiple linear regression with the model being tested previously in classic assumptions.

The result of this research indicates that Debt to Total Assets Ratio, Quick Ratio, Net Profit Margin, Return On Investment have simultaneously influenced to working capital credit. Meanwhile, this research indicates that only Debt to Total Assets Ratio has partially influenced to working capital credit, but Quick Ratio, Net Profit Margin, and Return On Investment have no partially influenced to working capital credit.

Keywords :      Leverage ratio, Liquidity ratio, Profitability ratio and Working Capital Credit.

  1. Pendahuluan

Dana merupakan persoalan yang paling utama karena tanpa adanya dana, bank tidak akan berfungsi sebagaimana layaknya.  Peran bank dalam menghimpun dana dari masyarakat dan menyalurkan dalam bentuk kredit ataupun dalam bentuk lainnya, bertujuan untuk meningkatkan taraf hidup rakyat banyak. Kredit yang disalurkan oleh bank merupakan bagian terbesar dari asset yang dimiliki bank, sehingga kegiatan perkreditan merupakan tulang punggung atau kegiatan utama bank.  Kita dapat melihat dari neraca setiap bank umum bahwa kredit merupakan komponen aktiva terbesar dari seluruh jumlah aktiva yang dimiliki suatu bank.  Oleh karena itu,pemerintah dan dunia perbankan harus menetapkan kebijakan yang dapat mengatur keseimbangan perkreditan nasional.

Seiring peningkatan jumlah bank, persaingan untuk menarik dana dari masyarakat semakin meningkat.  Semua bank berlomba menghimpun dana dari masyarakat yang akan disalurkan kembali kepada masyarakat bagi yang membutuhkan baik untuk tujuan produktif maupun konsumtif.  Fungsi intermediasi ini bukanlah hal mudah bagi perbankan, mulai dari aktivitas penghimpunan sampai penyaluran dana mengandung risiko sehingga perbankan diharuskan untuk dapat menjaga keseimbangan antara pengelolaan risiko yang dihadapi dengan layanan yang diberikan kepada masyarakat.

Fenomena yang terjadi pada tahun 2007-2008, adanya ancaman lonjakan angka kredit bermasalah (NPL), baik yang berasal dari debitur korporasi maupun debitur individual.  Kondisi ini terutama mengancam bank-bank BUMN atau bank pembangunan daerah (BPD) karena penyelesaian NPL di kelompok bank-bank ini terkendala masalah hukum yaitu ketentuan pencadangan (provisi) dan aturan yang melarang mereka memberikan potongan uang (haircut) untuk NPL karena dianggap merugikan negara.  NPL yang menumpuk dan menuntut pencadangan besar ini membuat bank-bank tersebut juga semakin tak leluasa berekspansi kredit.

Bank yang menjadi objek penelitian ini adalah PT.BNI (Persero) Tbk. yang memiliki tingkat NPL (Non Performing Loan) sebesar 4,9% pada tahun 2008 (Inilah.com : 2008).  Tingkat NPL yang tinggi merupakan kendala bagi PT. BNI Tbk. untuk menyalurkan kreditnya pada calon debitur. Padahal pihak bank telah melakukan selektifitas penilaian. Penilaian kelayakan pemberian kredit yang dilakukan oleh bank yang menjadi bahan penelitian ini melalui rasio keuangan debitur. Selektifitas ini dimaksudkan untuk mengurangi risiko terjadinya kredit macet yang akan berdampak pada profitabilitas bank.

Produk kredit PT. BNI (Persero) Tbk yang menjadi bahan penelitian penulis adalah Kredit Modal Kerja (KMK) Jangka Pendek.  Penelitian ini bermaksud untuk menjawab pengaruh nilai rasio keuangan yang dimiliki oleh debitur sebagai dasar penyaluran Kredit Modal Kerja (KMK) jangka pendek. Berdasarkan pemikiran tersebut, maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian pada PT.BNI (Persero) Tbk untuk wilayah Medan, yang berhubungan  dengan pengaruh Debt to Total Asset Ratio, Quick Ratio, Net Profit Margin, dan Return On Investment yang dimiliki oleh debitur terhadap penyaluran kredit modal kerja.

2. Tinjauan Pustaka

2.1 Pengertian Kredit

Kegiatan bank ialah menghimpun dana dari masyarakat (tabungan, giro, deposito) dan menyalurkan kembali dana tersebut ke masyarakat yang membutuhkan dalam bentuk pinjaman atau yang lebih dikenal dengan istilah kredit.  Istilah credit berasal dari bahasa latin credo yang berarti I Believe, I Trust, saya percaya.  Kata credo berasal dari kombinasi bahasa Sansekerta, cred yang berarti kepercayaan dan bahasa latin do yang berarti saya menaruh.  Kombinasi kedua kata tersebut menjadi bahasa latin, kata kerja dan kata bendanya masing-masing menjadi credere dan creditum, meskipun banyak penulis mengungkapkan bahwa credit berasal dari kata credere. Menurut Veithzal dan Andria (2007 : 4), “ kredit adalah penyerahan barang, jasa, atau uang dari satu pihak (kreditor) atas dasar kepercayaan kepada pihak lain (nasabah atau penghutang)dengan janji membayar dari si penerima kredit kepada pemberi kredit pada tanggal yang telah disepakati oleh kedua belah pihak.”

Pengertian kredit menurut Undang-Undang No. 10 Tahun 1998, sebagaimana tertuang dalam Pasal 1 ayat 11 (2006 : 1) ”kredit adalah penyediaan uang atau tagihan yang dapat dipersamakan dengan itu, berdasarkan persetujuan atau kesepakatan pinjam-meminjam antara bank dengan pihak lain yang mewajibkan pihak peminjam untuk melunasi hutangnya setelah jangka waktu tertentu dengan jumlah bunga.”

2.2 Aspek Penilaian Kredit

Ada beberapa aspek yang diperlukan perbankan sebagai bahan pertimbangan dalam penyaluran kredit,yaitu :

  1. aspek yuridis,
  2. aspek pemasaran,
  3. aspek manajemen dan organisasi,
  4. aspek teknis,
  5. aspek keuangan.

Penelitian ini lebih berfokus pada penilaian aspek keuangan dengan menggunakan beberapa variabel yang diperkirakan berpengaruh terhadap penyaluran kredit.

1)      DTAR (Debt to Total Assets Ratio)

Rasio ini digunakan untuk mengukur seberapa besar sebuah perusahaan menggunakan utang dari luar untuk membiayai operasi maupun ekspansi dirinya.  Leverage sering diartikan sebagai pendongkrak kinerja perusahaan dan identik dengan utang. Melalui rasio ini juga dapat dilakukan pengukuran persentase dana yang disediakan kreditur terhadap total asset perusahaan.  Perhitungan rasio dilakukan dengan cara membandingkan total kewajiban dengan total aktiva. Veithzal dan Andria (2007 : 352) mengungkapkan bahwa “semakin besar rasio ini, berarti semakin besar peranan dana dari luar untuk membelanjai aktiva dan semakiin besar risiko kreditor”. Rumusnya sebagai berikut.

Debt to Total Assets Ratio =   Total kewajiban    X 100%

Total aktiva

2)      QR (Quick Ratio)

Rasio ini hampir sama dengan Current Ratio, namun perbedaannya terletak pada jumlah aktiva lancar yang digunakan.  Menurut Salam dan Wahyudi (2003 : 4.4), “quick ratio hanya mempertimbangkan asset yang mudah atau cepat menjadi uang kas untuk melihat kemampuan perusahaan melunasi kewajibannya”. Pendapat ini juga senada dengan pendapat Veithzal dan Andria (2007 : 350) bahwa “quick ratio menunjukan berapa rupiah dari aktiva lancar yang segera dapat dicairkan untuk membiayai setiap rupiah utang jangka pendek tanpa menunggu pencairan persediaan”.  Rumusnya sebagai berikut.

Quick Ratio =          Kas + Surat Berharga + Piutang            X100%

Total utang jangka pendek

3)      NPM (Net Profit Margin)

Menurut Veithzal dan Andria (2007 : 354), “rasio ini menunjukan persentase laba bersih terhadap penjualan bersih. Laba bersih adalah laba operasi bersih (ditambah) dikurangi (pendapatan) beban di luar operasi dikurangi dengan pajak penghasilan badan untuk periode tersebut”.  Semakin besar rasio ini, semakin besar kemampuan perusahaan untuk menutup beban di luar operasi dan pajak penghasilan, yang sekaligus juga menunjukkan kemampuan perusahaan untuk memperoleh laba bersih. Rumusnya sebagai berikut.
Net Profit Margin =    Laba bersih setelah pajak       X 100%

Penjualan bersih

4)      ROI (Return On Investment)

Rasio ini menggambarkan kemampuan perusahaan untuk menghasilkan laba dari hasil investasi yang dilakukan.  Rasio ini menunjukan persentase laba bersih yang dinyatakan dari total aktiva. “Semakin besar rasio ini, semakin besar kemampuan perusahaan untuk menghasilkan laba dari total aktiva yang ada”, sebagaimana yang diungkapkan oleh Veithzal dan Andria (2007 : 354).  Rumusnya sebagai berikut.

Return On Investment =          Penjualan bersih                   X NPM

Total Aktiva                            

2.3 Kerangka Konseptual

Kerangka konseptual yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari empat variabel bebas dan satu variabel terikat.

Debt to Total Asset Ratio digunakan untuk melihat seberapa besar total aktiva perusahaan yang didanai oleh utang/pinjaman dari pihak lain.  Melalui rasio ini, bank dapat menilai salah satu aspek penilaian 5C’s yaitu capital yang dimiliki oleh calon debitur.  Menurut Hessel (2003 : 44),  ”dalam praktik saat ini, bank jarang sekali memberikan kredit untuk membiayai seluruh dana yang diperlukan nasabah.  Nasabah wajib menyediakan modal sendiri, sedangkan kekurangannya dapat dibiayai dengan kredit bank”.  Semakin besar rasio ini, berarti semakin besar peranan dana dari luar untuk membelanjai aktiva dan semakin besar risiko kreditor sehingga akan memengaruhi penyaluran kredit.

Quick Ratio menunjukan likuiditas perusahaan yang diukur menggunakan unsur-unsur aktiva lancar yang likuid.  Sebagaimana yang diungkapkan oleh Veithzal dan Andria (2007 : 350) bahwa “quick ratio menunjukan berapa rupiah dari aktiva lancar yang segera dapat dicairkan untuk membiayai setiap rupiah utang jangka pendek tanpa menunggu pencairan persediaan”.  Penilaian rasio ini akan menambah keyakinan bank kepada calon debitur untuk pembayaran kembali kreditnya sehingga dapat memengaruhi penyaluran kredit oleh kreditur.

Net Profit Margin dan Return On Investment merupakan rasio profitabilitas calon debitur. Rasio ini digunakan oleh bank untuk memperoleh keyakinan bahwa calon debitur telah memenuhi salah satu aspek penilaian 5C’s yaitu capacity, seperti yang dikemukakan Veithzal dan Andrea (2007 : 291) bahwa “capacity adalah kemampuan yang dimiliki calon nasabah dalam menjalankan usahanya guna memperoleh laba yang diharapkan.  Kegunaan dari penilaian ini untuk mengukur sejauh mana calon nasabah mampu untuk mengembalikan atau melunasi utang-utangnya secara tepat waktu dari usaha yang diperolehnya”.  Oleh karena itu, rasio ini juga turut memengaruhi penyaluran kredit.

2.3 Hipotesis

Berdasarkan perumusan masalah dan kerangka konseptual yang dibuat, maka hipotesis yang dapat disimpulkan adalah bahwa Debt to Total Assets Ratio, Quick Ratio, Net Profit Margin, Return On Investment debitur berpengaruh terhadap penyaluran Kredit Modal Kerja baik secara parsial maupun simultan.

3. Metodologi Penelitian

Penelitian yang dilakukan adalah desain kausal, yaitu untuk menganalisis hubungan-hubungan antara satu variabel dengan variabel lainnya atau bagaimana suatu variabel mempengaruhi variabel lainnya (Umar, 2003 : 30). Populasi penelitian ini adalah perusahaan-perusahaan yang mengajukan permohonan kredit modal kerja ke PT. BNI (Persero) Tbk. Cabang Sutomo dan disetujui pada tahun 2007 sampai dengan 2008.  Debitur yang menjadi populasi dalam penelitian ini berjumlah 154 pada tahun 2007 dan 140 pada tahun 2008.

Sampel adalah sebagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi tersebut (Sugiyono, 2006 : 56).   Penelitian ini menggunakan sampel yang ditentukan dengan menggunakan teknik pengambilan sampel bertujuan (purposive sampling), yaitu teknik pengambilan sampel dari populasi berdasarkan suatu kriteria tertentu (Jogiyanto, 2004 : 79).  Beberapa kriteria yang diambil untuk dijadikan sampel dalam penelitian ini yaitu :

  1. debitur yang diteliti adalah debitur yang menerima pinjaman Kredit Modal Kerja (KMK) jangka pendek dengan batas Rp. 500.000.000,00 hingga Rp 1.000.000.000,00;
  2. debitur tersebut masih menerima pinjaman kredit modal kerja dari PT. BNI (Persero) Tbk cabang Sutomo, Medan pada tahun 2007 dan 2008;
  3. usaha debitur bergerak di bidang dagang dan manufaktur;
  4. usaha debitur masih tetap berjalan dan masih melakukan pembayaran kredit hingga akhir 2008.

Berdasarkan kriteria diatas, sampel yang dapat diambil sebanyak 16 debitur selama tahun 2007 dan 2008.

4.      Metode Analisis Data

Dalam penelitian ini, data dianalisis statistik dengan menggunakan program SPSS 16,0. Pengujian hipotesis pada penelitian ini dilakukan setelah melakukan pengujian asumsi klasik.

4.1 Pengujian Asumsi Klasik

Model regresi linier berganda dapat disebut sebagai model yang baik jika model tersebut memenuhi asumsi normalitas data dan terbebas dari asumsi-asumsi klasik statistik, baik itu multikolineritas, heteroskedastisitas, maupun autokorelasi.

4.1.1 Uji Normalitas Data

Pengujian tahap awal yang dilakukan dalam metode penelitian analisis data karena setelah pengujian ini, dapat diambil tindak lanjut untuk menggunakan statistik parametrik atau tidak.  Dari hasil uji Kolmogorov Smirnov, dapat dilihat bahwa p-value pada kolom Asimp. Sig(2-tailed) memiliki nilai 0,250 nilai ini > 0,05 (level of significant). Hal ini menunjukkan bahwa residual terdistribusi normal. Data yang terdistribusi secara normal tersebut juga dapat dilihat melalui grafik histogram dan grafik normal plot data.

4.1.2 Uji Multikolineritas

Uji multikolineritas diperlukan untuk mengetahui ada tidaknya variabel yang memiliki kemiripan dengan variabel independen lain dalam satu model. Kemiripan antarvariabel independen dalam  satu model akan mennyebabkan terjadinya korelasi yang sangat kuat antar suatu variabel independen dengan variabel independen lainnya. Hasil uji multikolinearitas yang dilakukan pada penelitian ini dilakukan dengan melihat nilai tolerance dan variance inflation factor (VIF), menganalisis matrik korelasi variabel-variabel independen, melihat nilai Condition Index (CI) serta membandingkan nilai R2 model utama (awal) terhadap nilai R2 dari masing-masing auxilary regression antar variabel independen. Besarnya tingkat kolinearitas yang masih dapat ditolerir, yaitu: Tolerance > 0.10, Variance Inflation Factor (VIF) < 10,  Condition Index < 10, menunjukkan tidak ada korelasi yang tinggi diantara variabel independennya, maka hal ini merupakan indikasi tidak adanya multikolinearitas.

4.1.3 Uji Heteroskedastisitas

”Heteroskedastisitas menguji terjadinya perbedaan varians residual suatu periode pengamatan ke periode pengamatan lainnya”, seperti yang diungkapkan oleh Bhuono (2005 : 62).  Satu di antara beberapa syarat atas regresi linear adalah bahwa tidak terjadi adanya heteroskedastisitas, tentu yang diharapkan adalah terjadinya homokedastisitas. Hasil uji grafik Scatterplot menunjukkan tidak terjadinya heteroskedastisitas pada model regresi. Hal ini terlihat dari titik-titik yang menyebar secara acak yang terdapat diatas maupun dibawah angka 0 pada sumbu Y, titik-titik data tidak mengumpul hanya di atas atau di bawah saja, dan penyebaran titik-titik data tidak berpola.

4.1.4 Uji Autokorelasi

Pada data time series sering ditemukan adanya masalah autokorelasi.  Menurut Bhuono (2005 : 59), “uji ini bertujuan untuk mengetahui ada tidaknya korelasi antara variabel pengganggu pada periode t dengan kesalahan pada periode t-1”. Pada penelitian ini, autokorelasi diuji dengan menggunakan uji Durbin–Watson (DW test). Hasil uji menunjukkan bahwa nilai  du < DW < 4-dU (1,57 < 1,600< 2,43), berarti data terletak di daerah No Autocorelation sehingga dapat dikatakan bahwa data terbebas dari autokorelasi.

4.2    Pengujian Hipotesis

Pengujian hipotesis yang akan dilakukan didahului oleh analisis regresi.  Penelitian ini menggunakan analisis regresi linier berganda untuk pengujian statistiknya. Model regresi berganda yang akan diuji dapat dilihat berikut ini.

KMK = -1.102 + 6.376 DTAR – 1.488 QR + 1.654 NPM + 2.999ROI + e

Berdasarkan ANOVA, dapat dilihat bahwa nilai F hitung adalah 11.525 dengan tingkat signifikansi 0.000 yang lebih kecil dari 0.05 dan nilai F tabel  2,602988047. Berdasarkan hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa variabel Debt to Total Assets Ratio, Quick Ratio, Net Profit Margin, Return On Investment secara simultan berpengaruh terhadap penyaluran Kredit Modal Kerja karena F hitung  > F tabel (11.525 > 2,602988047) dan signifikansi penelitian < 0,05 ( 0,000<0,05).

Pengujian melalui uji t memberikan kesimpulan pengaruh dari masing-masing variabel sebagai berikut.

1)            Besarnya t hitung untuk variabel Debt to Total Assets Ratio (DTAR) sebesar 3,318 dengan nilai signifikan 0,003. Berdasarkan hasil uji statistik, dapat disimpulkan bahwa t hitung adalah 3,318 dan t tabel adalah 2,373417374, sehingga t hitung > t tabel (3,318 > 2,373417374), signifikansi penelitian 0,003 < 0,05, mengindikasikan bahwa H0 ditolak dan H1 diterima, yang berarti bahwa DTAR berpengaruh terhadap penyaluran KMK secara parsial.

2)            Besarnya t hitung untuk variabel Quick Ratio (QR) sebesar -1,016 dengan nilai signifikan 0,319. Berdasarkan hasil uji statistik, dapat disimpulkan bahwa t hitung adalah -1,016 dan t tabel adalah 2,373417374, sehingga t hitung < t tabel (-1,016 < 2,373417374), signifikansi penelitian 0,319 > 0,05, mengindikasikan H0 diterima dan H1 ditolak, yang berarti bahwa QR tidak berpengaruh terhadap penyaluran KMK secara parsial.

3)            Besarnya t hitung untuk variabel Net Profit Margin (NPM) sebesar 0,839 dengan nilai signifikan 0,410. Berdasarkan hasil uji statistik, dapat disimpulkan bahwa t hitung adalah 0,839 dan t tabel adalah 2,373417374, sehingga t hitung < t tabel (0,839 < 2,373417374), signifikansi penelitian 0,410 > 0,05, mengindikasikan H0 diterima dan H1 ditolak, yang berarti bahwa NPM tidak berpengaruh terhadap penyaluran KMK secara parsial.

4)            Besarnya t hitung untuk variabel Return On Investment (ROI) sebesar 1,000 dengan nilai signifikan 0,327. Berdasarkan hasil uji statistik, dapat disimpulkan bahwa t hitung adalah 1,000 dan t tabel adalah 2,373417374, sehingga t hitung < t tabel (1,000 < 2,373417374), signifikansi penelitian 0,327>0,05, mengindikasikan H0 diterima dan H1 ditolak, yang berarti bahwa ROI tidak berpengaruh terhadap penyaluran KMK secara parsial.

4.3 Pembahasan Hasil Statistik

Berdasarkan analisis statistik, Debt to Total Assets Ratio, Quick Ratio, Net Profit Margin, Return On Investment secara simultan berpengaruh terhadap  penyaluran kredit modal kerja pada PT.BNI (Persero) Tbk. Sutomo Medan. Hal ini mengindikasikan bahwa kreditur mempertimbangkan rasio-rasio keuangan para debitur untuk menekan jumlah kredit yang tidak dapat tertagih, dengan kata lain pihak manajamen perbankan telah melaksanakan konsep kehati-hatian (prudential banking). Berdasarkan hasil analisis statistik, pengaruh Debt to Total Assets Ratio, Quick Ratio, Net Profit Margin, Return On Investment debitur secara individu (parsial) terhadap penyaluran kredit dijelaskan sebagai berikut.

1)      Debt to Total Assets Ratio secara individu (parsial) berpengaruh terhadap penyaluran kredit. Ini berarti kondisi leverage debitur berpengaruh secara statistik terhadap penyaluran kredit modal kerja pada PT. BNI (Persero) Tbk. Medan. Pada umumnya total utang mengalami penurunan dikarenakan debitur melunasi utang-utangnya untuk mempermudah dalam memperoleh pinjaman kredit dari bank sehingga total assets juga mengalami penurunan. Peningkatan total assets biasanya dikarenakan peningkatan penjualan tunai, penerimaan piutang dari penjualan kredit, ataupun pembelian aktiva melalui utang.

2)      Quick Ratio secara individu (parsial) tidak berpengaruh terhadap penyaluran kredit.  Ini berarti kondisi likuiditas debitur tidak berpengaruh secara statistik terhadap penyaluran kredit modal kerja pada PT. BNI (Persero) Tbk. Medan.  Peningkatan aktiva lancar diduga bukan disebabkan aktivitas normal perusahaan, tetapi karena perusahaan menerapkan harga baru diatas harga normal untuk produk-produknya sebagai penyesuaian terhadap biaya-biaya yang mengalami kenaikan. Ini menyebabkan aktiva lancar umumnya mengalami peningkatan dalam kas dan piutang. Utang lancar mengalami penurunan diduga karena debitur melunasi utang-utang jangka pendeknya sehingga mempermudah dalam memperoleh pinjaman kredit ke bank untuk menambah modal kerjanya sebagai antisipasi biaya-biaya yang meningkat.

3)      Net Profit Margin secara individu (parsial) tidak berpengaruh terhadap penyaluran kredit. Ini berarti kondisi profitabilitas debitur yang tercermin dalam margin labanya tidak berpengaruh secara statistik terhadap penyaluran kredit modal kerja pada PT.BNI (Persero) Tbk. Medan.

4)      Return On Investment secara individu (parsial) tidak berpengaruh terhadap pemberian kredit. Ini berarti kondisi profitabilitas debitur yang tercermin dalam rasio laba terhadap aktivanya tidak berpengaruh secara statistik terhadap penyaluran kredit pada PT. BNI (Persero) Tbk. Medan.

5. Kesimpulan dan Saran

5.1    Kesimpulan

Berdasarkan analisis hasil penelitian dan pembahasan yang dilakukan, maka diperoleh kesimpulan sebagai berikut.

1)      PT. BNI (Persero) Tbk. telah menerapkan salah satu kriteria pemberian kredit, yaitu peninjauan dan penganalisisan pihak bank terhadap capacity (kemampuan) calon debitur. Hal ini bisa dilihat melalui uji statistik bahwa beberapa rasio keuangan yang telah diuji ternyata berpengaruh secara simultan terhadap penyaluran kredit modal kerja, meskipun secara parsial hanya satu variabel independen yang berpengaruh yaitu Debt to Total Assets Ratio.

2)      Pengujian secara individu (parsial) menunjukkan hasil bahwa hanya satu variabel independen yaitu Debt to Total Assets Ratio yang berpengaruh terhadap penyaluran Kredit Modal Kerja. Sedangkan variabel independen lain, seperti Quick Ratio, Net Profit Margin, Return On Investment yang secara parsial tidak berpengaruh terhadap penyaluran Kredit Modal Kerja.

5.2   Saran

Berdasarkan hasil penelitian ini, peneliti mencoba memberikan saran bagi berbagai pihak, diantaranya bagi debitur, perbankan, dan juga bagi peneliti selanjutnya.

1)      Disarankan bagi para debitur yang ingin meminjam kredit, sebaiknya memberikan laporan keuangan  yang lengkap, meliputi seluruh rasio keuangan yang sebenarnya untuk mengurangi risiko ketidakmampuan pembayaran kredit kembali kepada pihak bank.

2)      Kepada pihak bank, sebaiknya lebih meningkatkan prinsip kehati-hatian (prudential banking) dalam menganalisis laporan keuangan debitur untuk mengurangi risiko-risiko yang dapat merugikan perbankan dan pemerintah.

3)      Kepada peneliti yang lain disarankan untuk memperluas sampel penelitian dimana sampel tidak terbatas hanya pada satu cabang saja, memperluas kriteria sampel penelitian untuk maksimal jumlah pinjaman yang telah diberikan oleh bank, dan menambah faktor-faktor lain yang belum termasuk dalam penelitian ini, seperti rasio-rasio keuangan lainnya yang belum dibahas dalam penelitian ini, maupun kondisi-kondisi ekonomi yang kurang kondusif seperti  depresiasi rupiah, laju inflasi, maupun kenaikan harga bahan-bahan pokok dan harga minyak tanah.

REFERENCES

Ety, Ratih, dan Madjid, 2007. Metodologi Penelitian Bisnis Dengan Aplikasi SPSS, Edisi  Pertama, Mitra Wacana Media, Jakarta.

Faza Rifai, Mochamad, 2007. “Analisis Faktor-Faktor yang Memengaruhi Permintaan Kredit Perbankan pada Bank-Bank Umum di Jawa Tengah”, Skripsi, Universitas Islam Indonesia, Yogyakarta.

Jogiyanto, 2004. Metodologi Penelitian Bisnis, Edisi Pertama, BPFE, Yogyakarta.

Kasmir, 2008. Analisis Laporan Keuangan, Edisi Pertama, PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta.

Kasmir, 2008. Bank dan Lembaga Keuangan Lainnya, Edisi Kedelapan, PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta.

Lapoliwa dan Daniel, 2000. Akuntansi Perbankan, Edisi Kelima, Institut Bankir Indonesia, Jakarta.

Nogi, Hessel, 2003. Mengelola Kredit Berbasis Good Corporate Governance, Edisi Pertama, Balairung & Co., Yogyakarta.

Nazir, Moh., 1999. Metode Penelitian, Edisi Pertama, Ghalia Indonesia, Jakarta.

Nugroho, Bhuono Agung, 2005. Strategi Jitu Memilih Metode Statistik Penelitian Dengan SPSS, Edisi Pertama, CV. Andi Offset, Yogyakarta.

Pudjo, Teguh, 1996, Bank Budgeting – Profit, Planning and Control, Edisi Pertama, BPFE, Yogyakarta.

Salam dan Wahyudi, 2003. Analisis Laporan Keuangan, Edisi Ketiga, Universitas Terbuka, Jakarta.

Sastradipoera, Komaruddin, 2004. Strategi Manajemen Bisnis Perbankan : Konsep dan Implementasi untuk Bersaing, Penerbit Kappa-Sigma, Bandung, 2004.

Sugiyono, 2005. Metode Penelitian Bisnis, Edisi Kedelapan, Alfabeta, Bandung.

Umar, Husin, 2001. Riset Akuntansi, Edisi Pertama, PT. Gramedia Pustaka Umum, Jakarta.

Veithzal Rivai, Andria Permata V., 2007. Credit Management Handbook, Edisi Pertama, PT. RajaGrafindo Persada, Jakarta.

Yuanaria, Friska, 2007. ”Pengaruh Analisis Laporan Keuangan Debitur Sebagai Dasar Pengambilan Keputusan Pemberian Kredit Modal Kerja (KMK) Jangka Pendek Pada PT. Bank SUMUT Cabang Pematang Siantar”, Skripsi, Universitas Sumatera Utara, Medan.

Jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Sumatera Utara, 2004. Buku Petunjuk Teknis Penulisan Proposal Penelitian Dan Penulisan Skripsi, Fakultas Ekonomi USU, Medan.

Undang-Undang­ No. 10 Tahun 1998, Tentang Perbankan, Bank Indonesia, Jakarta.

www.bni.co.id

www.inilah.com

http://www.konsultanstatistik.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s