IAS No. 16 Tentang Aktiva Tetap

Posted: 28 April 2011 in Uncategorized
  1. A.    Pengertian IAS

Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan Nomor 16 Revisi 2007 adalah standar akuntansi yang dikeluarkan oleh Ikatan Akuntan Indonesia yang mengatur tentang perlakuan akuntansi aset tetap, yang terakhir kali diubah pada tahun 2007 dan mulai berlaku efektif sejak tanggal 1 Januari 2008. Pernyataan-pernyataan dalam PSAK 16 harus diterapkan dalm perlakuan akuntansi aset tetap kecuali ada pernyataan lain yang menetapkan atau mengizinkan perlakuan akuntansi yang berbeda dengan standar ini. Misalnya aset tetap seperti hak penambangan dan reservasi tambang seperti minyak bumi atau gas alam, dan sumber daya lain, tidak diatur dalam pernyataan ini tetapi melaui pernyataan lain yang khusus mengatur tentang aset tersebut. Perlakuan lain misalnya sewa-menyewa diatur dalam PSAK lain, tetapi hal-hal perlakuan akuntansi tertentu seperti penyusutan diatur dengan pernyataan ini.

Di dalam PSAK 16 yang dimaksud dengan aset tetap adalah aset berwujud yang:

  1. Dimiliki untuk digunakan dalam produksi atau penyediaan barang dan jasa untuk direntalkan kepada pihak lain, atau untuk tujuan administratif; dan
  2. Diharapkan untuk digunakan selama lebih dari satu periode.

Nilai yang dapat diakui sebagai aset tetap dalam standar ini yaitu nilai wajar.

  • Menurut PSAK No.16 (revisi 2007) tentang Aset Tetap, nilai wajar didefinisikan sebagai “ Jumlah yang dipakai mempertukarkan suatu aset antara pihak-pihak yang berkeinginan dan memiliki pengetahuan yang memadai dalam suatu transaksi dengan wajar.
  • Menurut IAS No.16 tentang Property, Plant and Equipment, yang diadopsi menjadi PSAK No.16 (revisi 2007), nilai wajar didefinisikan sebagai “The amount for wich and asset could be exchanged between knowleadgeable, wiling parties in an arm’s length transaction”.

Pengukuran aset tetap dapat dibagi ke dalam dua bagian, yaitu:

1)      Pengukuran awal ketika aset tersebut diperoleh

Aset tetap yang memenuhi kualifikasi untuk dikategorikan sebagai aset tetap pada awalnya diukur sebesar biaya perolehan. Biaya perolehan aset adalah jumlah biaya yang dikeluarkan oleh entitas dan diperlukan untuk menyiapkan aset tetap tersebut agar dapat digunakan sebagaimana mestinya sebuah aset tetap. Biaya perolehan aset tetap menurut PSAK Nomor 16 Revisi Tahun 2007 meliputi:

  1. biaya perolehan, termasuk bea impor dan pajak pembelian yang tidak boleh dikreditkan setelah dikurangi dengan diskon pembelian dan potongan lain.
  2. biaya-biaya yang dapat diatribusikan secara langsung untuk membawa aset ke lokasi dan kondisi yang diinginkan agar aset sesuai dengan keinginan dan maksud manajemen. Contoh biaya yang dapat diatribusikan secara langsung adalah:

a.       biaya penyiapan lahan untuk pabrik.

b.      biaya penanganan dan penyerahan awal.

c.       biaya perakitan dan instalasi.

d.      biaya pengujian aset apakah dapat beroperasi dengan baik, setelah dikurangi hasil penjualan dari produk yang dihasilkan atas pengujian tersebut.

e.       komisi profesional.

  1. estimasi biaya pembongkaran dan pemindahan aset tetap dan restorasi lokasi aset.

Pada umumnya nilai perolehan suatu aset tetap sama dengan jumlah biaya (bisa berupa kas maupun nonkas) untuk memperoleh aset tersebut. Selain hal tersebut, aset tetap dapat diperoleh dari pertukaran aset nonmoneter. Prinsip utama pada pengukuran aset tetap yang diperoleh dari pertukaran aset tetap ini adalah dengan menggunakan nilai wajarnya. Dalam hal nilai wajar aset tetap yang dipertukarkan tidak diketahui, nilai buku dari aset tersebut dapat digunakan.

2)      Pengukuran setelah pengakuan awal

Pengukuran aset tetap selain dilakukan pada awal perolehan juga dilakukan pada periode setelah aset tetap tersebut diperoleh. Di dalam PSAK 16 Revisi 2007 terdapat perubahan yang signifikan mengenai perlakuan akuntansi aset tetap terutama tentang pengukuran nilai aset tetap setelah perolehan. PSAK 16 Revisi 2007 mengakui adanya dua metode dalam perlakuan akuntansi aset tetap tersebut. Kedua metode itu adalah:

Metode Biaya Historis

Dengan metode ini setelah aset tetap diakui sebagai aset tetap, aset tetap tersebut dicatat pada harga perolehan dikurangi dengan akumulasi penyusutan dan akumulasi rugi penurunan nilai aset

Metode Revaluasian

Dengan metode ini setelah aset tetap diakui sebagai aset tetap, suatu aset tetap yang nilai wajarnya dapat diukur secara andal harus dicatat pada jumlah revaluasian, yaitu nilai wajar pada tanggal revaluasi dikurangi akumulasi penyusutan dan akumulasi rugi penurunan nilai yang terjadi setelah tanggal revaluasi. Revaluasi atas aset tetap harus dilakukan dengan keteraturan yang cukup reguler untuk memastikan bahwa jumlah tercatat tidak berbeda secara material dari jumlah yang ditentukan dengan menggunakan nilai wajar pada tanggal neraca.

Penentuan nilai aset dengan menggunakan nilai wajar pada umumnya dilakukan melalui penilai yang memiliki kualifikasi profesional. untuk melakukan penilaian terhadap tanah dan bangunan biasanya penilai menggunakan bukti pasar. Sedangkan untuk penilaian aset tetap lain seperti pabrik dan peralatan penilai akan menentukan sendiri nilai pasar wajarnya. Dalam hal tidak ada pasar yang memperjualbelikan aset tetap yang serupa, penentuan nilai pasar wajar dapat dilakukan dengan pendekatan penghasilan atau biaya pengganti yang telah disusutkan (depreciated replacement cost approach). Frekuensi pelaksanaan revaluasi sendiri tergantung pada perubahan niali wajar suatu aset. Jika nilai wajar yang tercatat berbeda secara material dengan nilai revaluasi, maka revaluasi lanjutan perlu dilaksanakan. Untuk aset tetap yang mempunyai perubahan nilai wajar secara fluktuatif dan sifatnya signifikan, revaluasi dapat dilaksanakan tiap tahun. Sedangkan untuk beberapa aset lain yang tidak mengalami perubahan secara fluktuatif dan signifikan, revaluasi tidak perlu dilaksanakan setiap tahun. Untuk aset seperti itu revaluasi dapat dilakukan setiap tiga tahun atau lima tahun.

Untuk metode revaluasi, perlakuan terhadap akumulasi penyusutan aset tetap pada tanggal revaluasi dapat dilakukan dengan salah satu cara sebagai berikut:

  1. Disajikan kembali secara proporsional dengan perubahan dan jumlah tercatat secara bruto dari aset sehingga jumlah tercatat aset setelah revaluasi sama dengan jumlah revaluasian, metode ini sering digunakan apabila aset direvaluasi dengan cara memberi indek untuk menentukan biaya pengganti yang disusutkan (depreciated replacement cost).
  2. Dieliminasi terhadap jumlah tercatat bruto dari aset dan jumlah tercatat neto setelah eliminasi disajikan kembali sebesar jumlah revaluasian dari aset tersebut. Metode ini sering digunakan untuk bangunan.

Pengakuan terhadap kenaikan atau penurunan nilai akibat revaluasi dilakukan langsung pada kenaikan atau penurunan akibat revaluasi, kecuali jika revaluasi dilakukan pada tahun-tahun berikutnya. Apabila revaluasi dilakukan untuk yang kedua kali dan seterusnya, terdapat perlakuan yang berbeda. Perbedaan tersebut adalah:

  • Jika jumlah tercatat aset meningkat akibat revaluasi, kenaikan tersebut langsung dikredit ke ekuitas pada bagian surplus revaluasi. Namun kenaikan tersebut harus diakui di dalam laporan laba rugi hingga sebesar jumlah penurunan nilai aset akibat revaluasi yang pernah dilakukan sebelumnya dalam laporan laba rugi.
  • Jika jumlah tercatat aset turun akibat revaluasi, penurunan tersebut diakui dalam laporan laba rugi. Namun penurunan nilai akibat revaluasi tersebut langsung didebit ke dalam ekuitas pada bagian surplus revaluasi selama penurunan tersebut tidak melebihi saldo kredit surplus revaluasi untuk aset tersebut.

Penilaian kembali atau revaluasi aktiva tetap pada umumnya tidak diperkenankan karena Standar Akuntansi Keuangan menganut penilaian aktiva berdasarkan harga perolehan. Penyimpangan dari ketentuan ini mungkin dilakukan berdasarkan ketentuan pemerintah. Ketika perusahaan melakukan penilaian kembali atas aset-asetnya, laporan keuangan harus menjelaskan mengenai penyimpangan dari konsep harga perolehan di dalam penyajian aktiva tetap serta pengaruh daripada penyimpangan tersebut terhadap gambaran keuangan perusahaan. Selisih antara nilai revaluasi dengan nilai buku (nilai tercatat) aktiva tetap dibukukan dalam akun modal dengan nama Selisih Penilaian Kembali Aktiva Tetap.

Kualifikasi Aktiva Tetap

Aktiva yang diperoleh perusahaan dan memenuhi kualifikasi untuk digolongkan sebagai aktiva tetap, pada awalnya harus diukur berdasarkan biaya perolehan. Komponen biaya perolehan sendiri terdiri dari:

  1. harga belinya, termasuk bea impor dan PPN Masukan Tak Boleh Restitusi (non-refundable), setiap potongan dagang dan rabat dikurangkan dari harga pembelian.
  2. biaya yang dapat diatribusikan secara langsung dalam membawa aktiva tersebut ke kondisi yang membuat aktiva tersebut dapat bekerja untuk penggunaan yang dimaksudkan. Contoh dari biaya yang dapat diatribusikan secara langsung adalah:
    1. biaya persiapan tempat
    2. biaya pengiriman awal (initial delivery) dan biaya simpan dan bongkar-muat (handling costs)
    3. biaya pemasangan (installation costs) dan
    4. biaya profesional seperti arsitek dan insinyur.

Perolehan aktiva tetap selain dengan pembelian tunai juga dapat dilakukan secara kredit. Jika pembayaran terhadap aktiva tetap tersebut dalam jangka waktu kurang dari satu periode, bunga atas hutang tersebut diakui sebagai beban bunga dan tidak dikapitalisasikan dalam nilai aktiva tetap. Pengkapitalisasian bunga dalam perolehan aktiva tetap diatur dalam PSAK 26 Revisi 1994 tentang Akuntansi Bunga untuk Periode Konstruksi.

Pengeluaran setelah perolehan awal aktiva tetap (subsequent expenditures) dikapitalisasikan jika menambah masa manfaat atau kemungkinan memberikan manfaat ekonomis di masa depan bagi perusahaan. Pengeluaran setelah perolehan awal aktiva tetap (subsequent expenditures) yang tidak menambah masa manfaat atau tidak memberikan manfaat ekonomis di masa depan diakui sebagai beban pada periode tersebut.

Aktiva tetap disajikan pada pada nilai bukunya. Nilai buku aktiva tetap merupakan nilai perolehan dari aktiva tetap tersebut dan dikurangi dengan akumulasi depresiasinya.

Penyusutan Aktiva Tetap

Jumlah dapat disusutkan (depreciable) suatu aktiva tetap harus dialokasikan secara sistematis sepanjang masa manfaatnya. Metode penyusutan harus mencerminkan pola pemanfaatan ekonomi aktiva (the pattern in which the asset’s economic benefits are consumed by the enterprise) oleh perusa-haan. Penyusutan untuk setiap periode diakui sebagai beban untuk periode yang bersangkutan, kecuali termasuk sebagai jumlah tercatat aktiva lain.

Masa manfaat suatu aktiva tetap harus ditelaah ulang secara periodik dan, jika harapan berbeda secara signifikan dengan estimasi sebelumnya, beban penyusutan untuk periode sekarang dan masa yang akan datang harus disesuaikan.

Metode penyusutan yang digunakan untuk aktiva tetap ditelaah ulang secara periodik dan jika terdapat suatu perubahan signifikan dalam pola pemanfaatan ekonomi yang diharapkan dari aktiva tersebut, metode penyusutan harus diubah untuk mencerminkan perubahan pola tersebut. Perubahan metode penyusutan harus diperlakukan sebagai suatu perubahan kebijakan akuntansi dan dilaporkan sesuai dengan PSAK No.25 dan beban penyusutan untuk periode sekarang dan masa yang akan datang harus disesuaikan. Apabila manfaat keekonomian suatu aktiva tetap tidak lagi sebesar jumlah tercatatnya maka aktiva tersebut harus dinyatakan sebesar jumlah yang sepadan dengan nilai manfaat keekonomian yang tersisa. Penurunan nilai kegunaan aktiva tetap tersebut dilaporkan sebagai kerugian.

  1. B.     IAS No.16 pencatatan akuntansi untuk komponen aktiva tetap

IAS 16 mengharuskan adanya pencatatan akuntansi untuk komponen aktiva tetap. Component accounting is the first challenge in IASKomponen akuntansi adalah tantangan pertama dalam IAS 16. Many companies are accustomed to Banyak perusahaan yang terbiasa aggregating fixed assets into large units of account—perhaps accounting for a building, menggabungkan aktiva tetap menjadi unit-unit besar-mungkin akuntansi account untuk membangun, sebuahaircraft, or an oil production facility as a single asset. pesawat, atau fasilitas produksi minyak sebagai aset tunggal. Paragraph 9 of IAS 16 reads: Ayat 9 dari IAS 16 berbunyi:

This Standard does not prescribe the unit of measure for recognition, ie what constitutes “Standar ini tidak menetapkan satuan ukuran untuk pengenalan, yaitu apa yang merupakan an item of property, plant and equipmesuatu aset tetap. Thus, judgement is required in applying the Jadi, penilaian diperlukan dalam menerapkan recognition criteria to an entity’s specific circumstanckriteria pengakuan’s khusus untuk keadaan suatu entitas. It may be appropriate to Ini mungkin cocok untuk aggregate individually insignificant items, such as moulds, tools and dies, and to apagregat secara individual tidak signifikan item, seperti cetakan, alat-alat dan mati, dan untuk menerapkan the criteria to the aggregate valukriteria dengan nilai agregat”.

However, and this is more significant to fixed-asset record-keeping systems, paragraphs 43 and

Namun, dan ini lebih signifikan untuk aset tetap pencatatan sistem, paragraf 43 dan 44 re44 membaca:

Each part of an item of property, plant and equipment with a cost that is significant in Setiap bagian dari suatu aset tetap dengan biaya yang signifikan dalam

relation to the total cost of the item shall be depreciated separately Sehubungan dengan total biaya barang harus disusutkan secara terpisah

There is little point in allocating the cost of an asset to components if the effAda gunanya mengalokasikan biaya perolehan aset untuk komponen jika pengaruhdoing so is not material. melakukannya tidak material. Still, some assets have components with useful lives that aNamun, beberapa aset memiliki komponen dengan masa manfaat yang significantly different from one another, and some jurisdictions already separate assets insecara signifikan berbeda dari satu sama lain, dan yurisdiksi sudah beberapa aset terpisah menjadi components. komponen. For example, a building’s, elevators, and heating/air conditioning plant may have Sebagai contoh, sebuah gedung itu, lift, dan pemanas / AC pabrik mungkin lives that are shorter than that of the building shell. hidup yang lebih pendek dibandingkan dengan shell bangunan. In a manufacturing facility, custom-built

  1. C.    IAS 16 requires an explicit estimate of residual value IAS 16 membutuhkan perkiraan eksplisit dari nilai sisa

Paragraph 6 of IAS 16 defines residual value as: Ayat 6 dari IAS 16 mendefinisikan nilai sisa sebagai:

“The residual value of an asset is the estimated amount that an entity would currentl”’Nilai sisa aset adalah jumlah diperkirakan entitas saat ini akan obtain from disposal of the asset, after deducting the estimated costs of disposal, if tdiperoleh dari penjualan aset, setelah dikurangi taksiran biaya pelepasan, jikaasset were already of the age and in the condition expected at the end of its useful life. aset sudah usia dan dalam kondisi yang diharapkan pada akhir masa manfaatnya’’.

Definisi tersebut dapat kembali sebagai pertanyaan sederhana. If the asset was at the end of its useful life Jika aset itu pada akhir masa manfaatnya today, and was in the condition expected at the end of its useful life, what would the compahari ini, dan berada di kondisi yang diharapkan pada akhir masa manfaat nya, apa yang akan perusahaan receive today from selling the asset (net of disposal costsmenerima hari ini dari penjualan aktiva (setelah dikurangi biaya penjualan)? IAS 16 also requires that the residual value of assets must be reviewed annually. IAS 16 juga mensyaratkan bahwa nilai sisa aset harus ditinjau setiap tahun. If an asset’s Jika aset’s residual value is greater than its net carrying amount, then there is no charge for depreciationilai sisa lebih besar dari nilai tercatat, maka tidak ada biaya untuk penyusutan.

Does this require management to make an annual detailed review of its fixed asset records? Apakah ini mengharuskan manajemen untuk membuat kajian rinci tahunan aktiva tetap catatannya? Probably not in many situationMungkin tidak dalam banyak situasi. Again, judgement is required. Sekali lagi, penilaian diperlukan. The residual value of some Nilai sisa dari beberapa assets, such as aircraft, may change significantly from period to perioaset, seperti pesawat terbang, dapat berubah secara signifikan dari periode ke periode. Other assets, suchAktiva lain, seperti those used in manufacturing facilities, may have residual values that do not change from periyang digunakan dalam fasilitas manufaktur, dapat memiliki nilai sisa yang tidak berubah dari periode to perke periode berikutnya. Management should have a policy for identifying and monitoring changes in assets. Manajemen harus memiliki kebijakan untuk mengidentifikasi dan monitoring perubahan aktiva.

  1. D.    IAS 16 membutuhkan perkiraan eksplisit masa manfaat

Paragraph 6 of IAS 16 defines useful life as: Ayat 6 dari IAS 16 mendefinisikan umur manfaat sebagai:

a.      the period over which an asset is expected to be available for use by an entity; or periode dimana aset diharapkan akan tersedia untuk digunakan oleh entitas; atau

b.      (b) the number of production or similar units expected to be obtained from the assejumlah atau mirip unit produksi diharapkan diperoleh dari aktiva oleh an entisuatu entitas.

Masa manfaat suatu aktiva didefinisikan dalam hal aset yang diharapkan utilitas untuk entitas. Oleh karena itu, masa manfaat suatu aktiva mungkin lebih pendek dari umur ekonomisnya. The estimation estimasi of the useful life of the asset is a matter of judgement based on the experience of the entity with dari masa manfaat aset tersebut adalah masalah penilaian berdasarkan pengalaman dari entitas dengan similar assets. aset yang serupa.

E.     IAS 16 memungkinkan berbagai metode depresiasi

Of all IAS 16’s requirements, the selection of depreciation methods can have the largest effect on Dari semua IAS 16 kebutuhan, pemilihan metode depresiasi dapat memiliki pengaruh terbesar untuk reported profit or losmelaporkan laba atau rugi. Yet the standard devotes only a few paragraphs to the topic. Namun standar mencurahkan hanya beberapa paragraf dengan topik. Paragraph Ayat 60 captures the principle:60 menangkap prinsip:

The depreciation method used shall reflect the pattern in which the asset’s future “Metode penyusutan yang digunakan harus mencerminkan pola di mana asset masa depan economic benefits are expected to be consumed by the entitymanfaat ekonomi diharapkan untuk dikonsumsi oleh entitas”.

The requirement, then, is simple. Persyaratan, kemudian, adalah sederhana. IAS 16 requires a depreciation method that is consistent with IAS 16 membutuhkan metode penyusutan yang konsisten dengan the pattern of consumption of economic benefits, to the extent possible within the limits of pola konsumsi manfaat ekonomi, sejauh mungkin dalam batas-batas apapun accounting allocation methmetode akuntansi alokasi. Selection of a method is not a free choice.Tujuan dari metode penyusutan, then, is to approximate the pattern in which the bundle of economic benefits diminishes ovkemudian, adalah untuk perkiraan pola di mana bundel manfaat ekonomi berkurang selama tiwaktu.

Manfaat ekonomi masa depan aset tetap dikonsumsi oleh entitas terutama through its umelalui penggunaannya. However, other factors, such as technical or commercial obsolescence Namun, faktor lain, seperti atau komersial usang teknis and wear and tear while an asset remains idle, often result in the diminution of dan keausan saat aktiva tetap siaga, sering mengakibatkan penurunan dari economic benefits that might have been obtained from the asset. manfaat ekonomi yang mungkin telah diperoleh dari aset tersebut. Consequently, all the following factors are considered in determining the useful life ofAkibatnya, semua faktor berikut dipertimbangkan dalam menentukan masa manfaat dariasset: aset:

  1. expected usage odiharapkan penggunaan aset tersebut. Usage is assessed by reference to thPenggunaan dinilai dengan mengacu pada asset expected capacity or physical outdiharapkan kapasitas atau output fisik.
  2. diharapkan fisik dan keausan, yang tergantung pada faktor-faktor operasional sepertithe number of shifts for which the asset is to be used and the repair and jumlah pergeseran penggunaan aset yang akan digunakan dan perbaikan dan maintenance programme, and the care and maintenance of the asset while idlpemeliharaan program, dan perawatan dan pemeliharaan aset sementara menganggur.
  3. teknis atau komersial usang yang timbul dari perubahan atau perbaikan in production, or from a change in the market demand for the product or serviproduksi, atau dari perubahan permintaan pasar untuk produk atau jasa output of the assetoutput dari aset tersebut.
  4. atau serupa batasan hukum atas penggunaan aset tersebut, seperti tanggal berakhirnya related leases.terkait sewa.
  1. F.     Kondisi-kondisi perusahaan menjual aktiva tetap

Kondisi-kondisi tertentu yang menyebabkan perusahaan menjual aktiva tetapnya, antara lain:

  1. Karena perusahaan kekurangan supply dana, sehingga perusahaan dengan terpaksa menjual aktiva tetapnya untuk memperoleh tambahan dana entah untuk modal kerja, atau untuk memenuhi kewajiban (bayar hutang) jangka pendek/jangka panjangnya.
  2. Karena perusahaan berganti jenis product, sehingga mesin-mesin dan peralatan tertentu tidak diperlukan lagi (tidak member manfaat lagi). Hal ini biasanya terjadi pada perusahaan-perusahaan manufaktur yang memproduksi “fast moving product”, misalnya: Perusahaan Apparel, perubahan trend mode akan membuat perusahaan tidak mempergunakan mesin untuk jenis pengerjaan bagian tertentu lagi.
  3. Karena perusahaan berganti technology, misalnya: perusahaan menjual semua komputer ber spesifikasi Pentium III, karena perusahaan akan membeli komputer yang berspesifikasi Pentium IV. Atau perusahaan menjual monitor non-flat karena akan menggunakan flat-monitor.
  4. Karena perusahaan akan ditutup (berhenti beroperasi) karena alasan tertentu.
  1. G.    Prosedur dan perlakuan Akuntansi atas penjualan Aktiva Tetap

Pada garis besarnya prosedur dan jurnal penjualan aktiva tetap hanya terdiri dari 2 langkah saja, yaitu:

Step-1: Update Buku Aktiva yang dijual

Step-2: Hapus Aktiva Tetap

Contoh kasus:

Pada tanggal 18 April 2008, PT. ROYAL BALI CEMERLANG menjual salah satu mesin produksinya seharga Rp. 15.000.000. Dahulunya dibeli pada tanggal 22 February 2005 dengan harga perolehan sebesar Rp. 25.000.000.

Catatan:
PT. Royal Bali Cemerlang menggunakan metode garis lurus untuk menghitung penyusutan aktiva tetapnya, tanpa “Salvage Value (nilai residu)”, umur ekonomis (life time) mesin diperkirakan 8 Tahun. Posisi Aktiva Tetap Mesin PT. Royal Bali Cemerlang per 31 Des 2007 adalah sebagai berikut:

Perolehan = Rp. 25.000.000

Accum Deprec = (Rp. 8.854.167)

——————-

Nilai Buku = Rp. 16.145.833

Prosedur dan Perlakuan-nya:

Step-1: Update Buku Aktiva Tetap

Hitung Penyusutan 01 January – 18 Maret 2008:
Karena mesin dijual pada tanggal 18 April 2008, dimana tanggal 18 sudah melewati tengah bulan, oleh karenanya untuk bulan April dianggap mesin telah dipergunakan selama satu bulan penuh (jika dibawah tanggal 15 maka dianggap belum dipergunakan), maka penyusutan 01 Jan – 18 Apr 2008:

4/12 x (25.000.000/8) = Rp. 1.041.667.

 Bebankan Penyusutan dengan jurnal:

[Debit]. Depreciation = Rp 1,041,667
[Credit]. Accum Deprec = Rp 1,041,667

catatan: Jurnal diatas akan menambah “Depreciation Cost” dan menambah “Accum Deprec” mesin sebesar Rp. 1.041.667. sehingga “Accum Deprec Mesin” per tanggal 18 April 2008 adalah:

Accum Deprec per 31 Dec 2007 = Rp 8,854,167
Accum Deprec 01 Jan-18 Apr 2008 = Rp 1,041,667
————————————————————-
Accum Deprec per 18 April 2008 = Rp 9.895,833

Dan nilai “Buku Aktiva Tetap Mesin” per 18 April 2008 adalah:

Rp 25,000,000 – Rp 9,895,833 = Rp 15,104,167

Langkah berikutnya adalah penghapusan

Step-2: Penghapusan Aktiva tetap Mesin

Aktiva Tetap Mesin dihapus dengan jurnal:

[Debit]. Kas/Piutang = Rp. 15.000.000,-

[Debit]. Accum Deprec Mesin = Rp. 9.895.833,-

[Debit]. Rugi Penjualan Aktiva = Rp. 104.167,-

[Credit]. Aktiva Tetap Mesin = Rp. 25.000.000,-

Catatan:

Jurnal diatas akan:

  • Menghapus aktiva tetap mesin dan akumulasi penyusutannya. Penghapusan terjadi karena posting aktiva tetap mesin di masukkan di credit (berlawanan dengan perolehan aktiva tetap mesin yang berada di debit) dan Deprec Accum di masukkan ke sisi debit (berlawanan dengan saldonya yang berada di sisi credit).
  • Mencatat kas masuk atau mengakui piutang sebesar nilai penjualan.
  • Mengakui rugi penjualan aktiva tetap sebesar selisih antara harga perolehan dengan (Kas+Accum Deprec), dengan kata lain selisih antara nilai buku aktiva tetap setelah di-update dengan nilai penjualan.

Sumber :
http://asil4dworld.wordpress.com/2009/06/07/psak-16-revisi-2007-tentang-aset-tetap/

http://www.arghajata.com/article/pdf/ajcpub016-1293812727.pdf

http://www.ifrs.org

http://putra-finance-accounting-taxation.blogspot.com/2008/04/penjualan-aktiva-tetap-perlakuan.html

About these ads

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s