jurnal akuntansi 2

Posted: 22 April 2010 in Uncategorized

sumber : http://akuntansi.usu.ac.id/jurnal-akuntansi-40.html

PENGARUH GOOD CORPORATE GOVERNANCE TERHADAP KINERJA  KEUANGAN PADA PERUSAHAAN YANG TERMASUK KELOMPOK SEPULUH BESAR MENURUT CORPORATE GOVERNANCE PERCEPTION INDEX (CGPI)

DITA PARADITA

Fakultas Ekonomi Universitas Sumatera Utara

NURZAIMAH

Fakultas Ekonomi Universitas Sumatera Utara

Abstract

The main objective of this research was to analyze the corelation between good corporate governance (GCG) application and financial performance of the company. GCG application score was the variable that used as the indicator of GCG. Return on Investment (ROI), Return on Equity (ROE) dan Net Profit Margin (NPM) were the variables that used as the indicator of financial performance of the company.

This research was an associative explanation research where the variables had causality characteristic. The CGPI’s top ten companies were the sample of this research. They were chosen by purposive sampling method. Pooling (time series and cross sectional) data were used in this research, it was obtained from CGPI reports and financial statement at year 2004–2007. Statistic method through simple regression analysis was used in hypothesis testing.

The result of this research showed that GCG didn’t influence financial performance partially. ROI, ROE and NPM can’t be explained by GCG application.

Keywords        : Good Corporate Governance (GCG), Return on Investment (ROI), Return on Equity (ROE), Net Profit Margin (NPM).

  1. Pendahuluan

Salah satu tujuan penting pendirian suatu perusahaan adalah untuk meningkatkan kesejahteraan pemiliknya atau pemegang saham, atau memaksimalkan kekayaan pemegang saham melalui peningkatan nilai perusahaan (Brigham dan Houston, 2001). Peningkatan nilai perusahaan tersebut dapat dicapai jika perusahaan mampu beroperasi dengan mencapai laba yang ditargetkan. Melalui laba yang diperoleh tersebut perusahaan akan mampu memberikan dividen kepada pemegang saham, meningkatkan pertumbuhan perusahaan dan mempertahankan kelangsungan hidupnya.

Hambatan-hambatan yang dihadapi perusahaan dalam mencapai tujuan perusahaan tersebut pada umumnya yaitu: (1) Perlunya kemampuan perusahaan untuk mengelola sumber daya yang dimilikinya secara efektif dan efisien, (2) Konsistensi terhadap sistem pemisahan antara manajemen dan pemegang saham, sehingga secara praktis perusahaan mampu meminimalkan konflik kepentingan yang mungkin terjadi dan (3) Perlunya kemampuan perusahaan untuk menciptakan kepercayaan pada penyandang dana ekstern, bahwa dana ekstern tersebut digunakan secara tepat dan seefisien mungkin serta memastikan bahwa manajemen bertindak yang terbaik untuk kepentingan perusahaan. Untuk mengatasi hambatan-hambatan tersebut maka para pelaku bisnis di Indonesia menyepakati penerapan good corporate governance (GCG).

Melalui penerapan GCG diharapkan: (1) perusahaan mampu meningkatkan kinerjanya melalui terciptanya proses pengambilan keputusan yang lebih baik, meningkatkan efisiensi operasional perusahaan, serta mampu meningkatkan pelayanannya kepada stakeholders, (2) perusahaan lebih mudah memperoleh dana pembiayaan yang lebih murah sehingga dapat meningkatkan corporate value, (3) mampu meningkatkan kepercayaan investor untuk menanamkan modalnya di Indonesia dan (4) pemegang saham akan merasa puas dengan kinerja perusahaan sekaligus akan meningkatkan shareholders value dan dividen. Manfaat perusahaan menerapkan praktek GCG adalah resources yang dimiliki pemegang saham perusahaan dapat dikelola dengan baik, efisien dan digunakan semata-mata untuk kepentingan peningkatan nilai perusahaan. Semua itu dilakukan perusahaan untuk dapat maju dan bersaing secara sehat.

Winda Putri (2006) menunjukkan bahwa penerapan GCG dan jumlah komisaris dapat mempengaruhi kinerja perusahaan. Yudha Pranata (2007) juga menunjukkan bahwa penerapan GCG secara signifikan dapat meningkatkan return on equity, net profit margin dan Tobin’s Q sebagai indikator dari kinerja perusahaan. Ridwan Frediawan (2008) menunjukkan bahwa penerapan GCG yang dilakukan perusahaan tersebut mempengaruhi kinerja keuangan perusahaan yang dapat dilihat dari meningkatnya rasio return on asset. Namun Irene Dumasi Siahaan (2008) menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang tidak signifikan antara penerapan GCG terhadap kinerja keuangan perusahaan yang diukur dengan economic value added.

  1. Tinjauan Pustaka

2.1 Good Corporate Governance

GCG pertama kali diperkenalkan oleh Cadbury Committee pada tahun 1992 yang menggunakan istilah tersebut pada laporan mereka (Cadbury Report). Menurut Cadbury Committee pengertian GCG adalah seperangkat aturan yang merumuskan hubungan antara para pemegang saham, manajer, kreditor, pemerintah, karyawan, dan pihak-pihak yang berkepentingan lainnya baik internal maupun eksternal sehubungan dengan hak-hak dan tanggung jawab mereka. Organization for Economic Cooperation and Development (OECD) atau disebut juga kelompok negara maju mendefinisikan GCG sebagai cara-cara manajemen perusahaan bertanggung jawab pada shareholders-nya.

Menurut Forum for Corporate Governance in Indonesia (FCGI) pengertian GCG adalah seperangkat peraturan yang mengatur hubungan antara pemegang saham, pengurus (pengelola) perusahaan, pihak kreditur, pemerintah, karyawan serta para pemegang kepentingan internal dan eksternal lainnya yang berkaitan dengan hak-hak dan kewajiban mereka atau dengan kata lain suatu sistem yang mengatur dan mengendalikan perusahaan sehingga menciptakan nilai tambah bagi semua pihak yang berkepentingan (stakeholders). Tujuan dari GCG adalah untuk menciptakan nilai tambah bagi semua pihak yang berkepentingan (stakeholders). Secara teoritis, pelaksanaan GCG dapat meningkatkan nilai perusahaan dengan meningkatkan kinerja keuangan mereka, mengurangi risiko yang mungkin dilakukan oleh dewan komisaris dengan keputusan-keputusan yang menguntungkan diri sendiri dan umumnya GCG dapat meningkatkan kepercayaan investor (Tjager, et al., 2003).

Konsep GCG yang komprehensif mulai berkembang sejak setelah kejadian The New York Stock Exchange Crash pada tanggal 19 Oktober 1987 di mana cukup banyak perusahaan multinasional yang tercatat di Bursa Efek New York mengalami kerugian finansial yang cukup besar. Di kala itu, untuk mengantisipasi permasalahan internal perusahaan, banyak para eksekutif perusahaan melakukan rekayasa keuangan yang intinya adalah bagaimana “menyembunyikan” kerugian perusahaan atau memperindah penampilan kinerja manajemen dan laporan keuangan. Dengan kesadaran tinggi untuk meningkatkan daya saing bangsa oleh segenap negarawan, cendikiawan dan usahawan, maka dimulailah gerakan untuk meningkatkan praktek-praktek yang baik dalam perusahaan. Gerakan ini dimulai dari tokoh-tokoh di Inggris yang dipimpin oleh Sir Adrian Cadbury, yang pada saat itu menjabat sebagai Direktur Bank of England dan mantan CEO Group Cadbury. Sejak terbitnya Cadbury Code on Corporate Governance pada tahun 1992, semakin banyak institusi yang terus melakukan penyempurnaan dalam prinsip-prinsip dan petunjuk teknis praktek corporate governance.

Prinsip-prinsip dasar GCG menurut OECD mencakup lima bidang utama yaitu:

  1. perlindungan terhadap hak-hak pemegang saham (the rights of shareholders).
  2. persamaan perlakuan terhadap seluruh pemegang saham (the equitable treatment of shareholders).
  3. peranan stakeholders yang terkait dengan perusahaan (the role of shareholders).
  4. keterbukaan dan transparansi (disclosure and transparency).
  5. akuntabilitas dewan komisaris (the responsibilities of the board).

Pelaksanaan GCG diharapkan dapat memberikan beberapa manfaat berikut ini (FCGI, 2001:4):

  1. Meningkatkan kinerja perusahaan melalui terciptanya proses pengambilan keputusan yang lebih baik, meningkatkan efisiensi operasional perusahaan serta lebih meningkatkan pelayanan kepada stakeholders.
  2. Mempermudah diperolehnya dana pembiayaan yang lebih murah sehingga dapat lebih meningkatkan corporate value.
  3. Mengembalikan kepercayaan investor untuk menanamkan modalnya di Indonesia.
  4. Pemegang saham akan merasa puas dengan kinerja perusahaan karena sekaligus akan meningkatkan shareholders value dan dividen.

The Indonesian Institute for Corporate Governance (IICG) yang didirikan pada tanggal 2 Juni 2000 adalah sebuah lembaga independen yang melakukan kegiatan diseminasi dan pengembangan Tata Kelola Perusahaan yang Baik (Good Corporate Governance - GCG) di Indonesia. Kegiatan utama yang dilakukan adalah melaksanakan riset penerapan GCG, yang hasilnya berupa Corporate Governance Perception Index (CGPI). CGPI adalah riset dan pemeringkatan penerapan GCG di perusahaan publik yang tercatat di BEI.

2.2 Kinerja Keuangan

Kinerja suatu perusahaan dapat dilihat melalui laporan keuangan perusahaan tersebut. Dari laporan keuangan tersebut, dapat diketahui keadaan finansial dan hasil-hasil yang telah dicapai perusahaan selama periode tertentu. Pengukuran kinerja merupakan analisis data serta pengendalian bagi perusahaan. Pengukuran kinerja didefinisikan sebagai “performing measurement“ yaitu kualifikasi dan efisiensi perusahaan atau segmen atau keefektifan dalam pengoperasian bisnis selama periode akuntansi. Dengan demikian pengertian kinerja adalah suatu usaha formal yang dilaksanakan perusahaan untuk mengevaluasi efisiensi dan efektivitas dari aktivitas perusahaan yang telah dilaksanakan pada periode waktu tertentu. Secara formal, produk akhir dari hasil pengukuran kinerja diwujudkan dalam suatu laporan yang disebut laporan kinerja. Pengukuran kinerja digunakan perusahaan untuk melakukan perbaikan di atas kegiatan operasionalnya agar dapat bersaing dengan perusahaan lain. Pengukuran kinerja dilakukan untuk menekan perilaku yang tidak semestinya, untuk merangsang dan menegakkan perilaku yang semestinya diinginkan melalui umpan balik hasil kinerja pada waktunya, serta penghargaan.

2.3 Kerangka Konseptual

Kerangka konseptual penelitian ini dapat dilihat pada gambar berikut ini.

Variabel Dependen (Y)

KINERJA KEUANGAN

ROI (Y1)
Variabel Independen (X)

GOOD CORPORATE GOVERNANCE (GCG)

(+)

H1

(+)

ROE (Y2)
Variabel Independen (X)

GOOD CORPORATE GOVERNANCE (GCG)

H2

NPM (Y3)
Variabel Independen (X)

GOOD CORPORATE GOVERNANCE (GCG)

(+)

H3

Corporate governance merupakan proses dan struktur yang digunakan untuk mengarahkan dan mengelola bisnis dan urusan-urusan perusahaan dalam rangka meningkatkan kemakmuran bisnis dan akuntabilitas perusahaan. Dengan adanya prinsip-prinsip GCG maka laporan keuangan yang dihasilkan dapat diungkapkan secara transparan dan akurat sehingga dapat membantu investor dan pihak-pihak lain yang berkepentingan dalam suatu perusahaan untuk mengambil keputusan sehingga dapat meningkatkan kinerja keuangan perusahaan. Dapat disimpulkan bahwa dengan diterapkannya prinsip-prinsip GCG dalam perusahaan maka pihak-pihak yang terkait di perusahaan memiliki tanggung jawab yang jelas sesuai dengan peraturan yang berlaku sehingga dapat mendorong pengelolaan organisasi yang lebih demokratis, lebih accountable, lebih transparan, serta akan meningkatkan keyakinan bahwa perusahaan dan organisasi lainnya dapat menyumbangkan manfaat tersebut dalam jangka panjang. Dalam hal ini, tentu saja kinerja keuangan perusahaan akan meningkat karena seiring dengan berjalan baiknya kegiatan perusahaan.

Dari keterangan di atas, dapat disimpulkan bahwa hubungan antara GCG dengan kinerja keuangan bersifat kausal. Penerapan GCG akan meningkatkan kinerja keuangan perusahaan. Dalam konteks tersebut, penerapan GCG dikatakan berpengaruh positif terhadap kinerja keuangan yaitu berpengaruh positif terhadap ROI, ROE dan NPM artinya dengan penerapan GCG yang baik maka kinerja keuangan yaitu ROI, ROE dan NPM juga akan baik. Adapun manfaat dari penerapan GCG salah satunya yaitu meningkatkan produktivitas dan efisiensi perusahaan yang tentu saja berimbas besar terhadap hasil penjualan. Dengan adanya penjualan atau laba bersih yang baik akan berpengaruh pada kinerja keuangan perusahaan dilihat dari meningkatnya rasio return on investment (ROI), return on asset (ROA), return on equity (ROE) dan net profit margin (NPM).

2.4 Hipotesis

Hipotesis yang diperoleh dari kerangka konseptual adalah sebagai berikut:

H1 : GCG berpengaruh terhadap ROI.

H2 : GCG berpengaruh terhadap ROE.

H3 : GCG berpengaruh terhadap NPM.

  1. 3. Metode Penelitian

Jenis penelitian ini adalah eksplanatif asosiatif, di mana hubungan antar variabel tersebut dirumuskan dalam hipotesis penelitian yang akan diuji kebenarannya. Hubungan antarvariabelnya bersifat kausalitas. Penelitian ini akan menggunakan metode observasi (pengamatan) terhadap data yang akan digunakan. Dimensi waktu yang dipakai adalah cross sectional, yang mencerminkan keadaan pada suatu saat tertentu, yaitu dari tahun 2004–2007.

Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas objek atau subjek yang memiliki kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya (Sugiyono, 2007:72). Populasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah semua perusahaan yang ikut serta dan memenuhi syarat dalam ajang Corporate Governance Perception Index (CGPI) Award pada periode tahun 2004-2007. Jumlah populasi penelitian ini yaitu sebanyak 93 perusahaan. Teknik penarikan sampel dilakukan secara purposive sampling, artinya bahwa populasi yang memenuhi kriteria tertentu sesuai yang dikehendaki oleh peneliti. Adapun pertimbangan yang digunakan dalam pemilihan sampel adalah: perusahaan yang termasuk ke dalam kelompok sepuluh besar perusahaan terbaik dalam penerapan GCG pada tahun 2004, 2005, 2006 dan 2007, di mana perusahaan-perusahaan yang muncul lebih dari satu kali dalam kelompok sepuluh besar tersebut hanya diambil satu data. Berdasarkan tahapan tersebut, penulis menetapkan sebanyak 20 sampel perusahaan.

Dalam penelitian ini yang menjadi variabel independen adalah penerapan GCG. Pengukuran penerapan GCG dilakukan dengan menggunakan skor penerapan GCG (CGPI) yang dipublikasikan oleh IICG sedangkan yang menjadi variabel dependen adalah kinerja keuangan. Variabel kinerja keuangan ini diproksi dengan nilai Return on Investment (ROI), Return on Equity (ROE), dan Net Profit Margin (NPM).

a.   Return on Investment (ROI)

Return on investment adalah kemampuan modal yang diinvestasikan dalam keseluruhan aktiva untuk menghasilkan keuntungan bagi investor (Brigham and Gapenski, 1996:41).

ROI = Laba bersih setelah pajak × 100%
Rata-rata total aktiva

b.   Return on Equity (ROE)

Return on equity sering disebut juga dengan rate of return on net worth yaitu kemampuan perusahaan dalam menghasilkan keuntungan dengan modal sendiri (Brigham and Gapenski, 1996:41).

ROE = Laba bersih setelah pajak × 100%
Rata-rata total ekuitas

c.   Net Profit Margin (NPM)

Net Profit Margin adalah kemampuan sales/penjualan perusahaan untuk memperoleh laba (Brigham and Gapenski, 1996:42).

NPM = Laba bersih setelah pajak × 100%
Penjualan bersih
  1. Metode Analisis Data

4.1 Analisis Statistik Deskriptif

Statistik deskriptif adalah statistik yang digunakan untuk menganalisa data dengan cara mendeskripsikan atau menggambarkan data yang telah terkumpul sebagaimana adanya tanpa bermaksud membuat kesimpulan yang berlaku untuk umum atau generalisasi (Sugiyono, 2007:142). Deskripsi suatu data dilihat dari nilai rata-rata (mean), standar deviasi, maksimum, dan minimum.

4.2 Pengujian Asumsi Klasik

4.2.1. Uji Normalitas Data

Uji normalitas data dilakukan dengan analisis grafik dengan melihat grafik histogram dan normal probability. Selain itu uji normalitas data  menggunakan alat uji statistik yaitu alat uji statistik Kolmogorov–Smirnov (Uji K–S) agar lebih meyakinkan dengan melihat data residualnya apakah berdistribusi normal atau tidak. Hasil uji kolmogorov smirnov adalah sebagai berikut.

1)   Variabel ROI

Hasil uji kolmogorov smirnov pada penelitian ini menunjukkan probabilitas = 0,616 dan di atas nilai signifikansi 0,05 dengan kata lain variabel residual berdistribusi normal dan dapat digunakan untuk uji–t karena 0,616 > 0,05 (Ho diterima).

2)   Variabel ROE

Hasil uji kolmogorov smirnov pada penelitian ini menunjukkan probabilitas = 0,935  dan di atas nilai signifikansi 0,05 dengan kata lain variabel residual berdistribusi normal dan dapat digunakan untuk uji–t karena 0,935 > 0,05 (Ho diterima).

3)   Variabel NPM

Hasil uji kolmogorov smirnov pada penelitian ini menunjukkan probabilitas = 0,371 dan di atas nilai signifikansi 0,05 dengan kata lain variabel residual berdistribusi normal dan dapat digunakan untuk uji–t karena 0,371 > 0,05 (Ho diterima).

4.2.2. Uji Autokorelasi

Uji autokorelasi bertujuan menguji apakah dalam model regresi linear ada korelasi antara kesalahan pengganggu pada periode t dengan kesalahan pengganggu t−1 (sebelumnya). Jika terjadi korelasi, maka dinamakan ada problem autokorelasi. Autokorelasi muncul karena observasi yang berurutan sepanjang waktu berkaitan satu sama lainnya. Model regresi yang baik adalah regresi yang bebas dari autokorelasi. Hasil dari pengujian autokorelasi dapat dilihat di bawah ini.

1)   Variabel ROI

Hasil uji autokorelasi menunjukkan nilai DW sebesar 2,054. Nilai ini dibandingkan dengan nilai tabel statistik Durbin-Watson; nilai batas bawah (DL) sebesar 1,20 dan nilai batas atas (DU) sebesar 1,41. Nilai DW berada di antara DU dan 4−DU (1,41 < 2,054 < 2,59), maka dapat disimpulkan bahwa tidak terjadi autokorelasi.

2)   Variabel ROE

Hasil uji autokorelasi menunjukkan nilai DW sebesar 1,907. Nilai ini dibandingkan dengan nilai tabel statistik Durbin-Watson; nilai batas bawah (DL) sebesar 1,20 dan nilai batas atas (DU) sebesar 1,41. Nilai DW berada di antara DU dan 4−DU (1,41 < 1,907 < 2,59), maka dapat disimpulkan bahwa tidak terjadi autokorelasi.

3)   Variabel NPM

Hasil uji autokorelasi menunjukkan nilai DW sebesar 1,551. Nilai ini dibandingkan dengan nilai tabel statistik Durbin-Watson; nilai batas bawah (DL) sebesar 1,20 dan nilai batas atas (DU) sebesar 1,41. Nilai DW berada di antara DU dan 4−DU (1,41 < 1,551 < 2,59), maka dapat disimpulkan bahwa tidak terjadi autokorelasi.

4.2.3. Uji Heteroskedastisitas

Model regresi yang baik adalah tidak terjadi heteroskedastisitas (Erlina dan Mulyani, 2007:108). Deteksi ada tidaknya gejala heterokedastisitas adalah dengan melihat ada tidaknya pola tertentu yang teratur (bergelombang, melebar kemudian menyempit) pada grafik scatterplot di sekitar nilai X, Y1, Y2, dan Y3.  Jika ada pola tertentu, maka telah terjadi gejala heterokedastisitas.

4.3 Pengujian Hipotesis

4.3.1. Hasil Analisis Regresi Sederhana

Pengujian hipotesis dilakukan dengan tujuan untuk menguji ada tidaknya pengaruh dari variabel independen terhadap variabel dependen. Pengujian hipotesis penelitian ini menggunakan regresi sederhana. Hasil dari pengujian dengan regresi sederhana dapat dilihat di bawah ini.

1)   Variabel ROI

Berdasarkan hasil pengolahan data diperoleh model persamaan regresi sederhana sebagai berikut:

Y1 = 30,361 − 0,256X + e

  1. konstanta sebesar 30,361 menyatakan bahwa jika nilai skor penerapan GCG = 0 (tidak ada), maka ROI akan sebesar 30,361,
  2. koefisien X (b1) = −0,256 menunjukkan bahwa GCG (X) berpengaruh negatif terhadap ROI (Y1). Hal ini berarti bahwa jika variabel skor penerapan GCG ditingkatkan, maka akan menurunkan ROI sebesar 0,256,
  3. standar error (e) menunjukkan tingkat kesalahan pengganggu.

2)   Variabel ROE

Berdasarkan hasil pengolahan data diperoleh model persamaan regresi sederhana sebagai berikut:

Y2 = 39,250 − 0,202X + e

  1. konstanta sebesar 39,250 menyatakan bahwa jika nilai skor penerapan GCG = 0 (tidak ada), maka ROE akan sebesar 39,250,
  2. koefisien X (b1)= −0,202 menunjukkan bahwa GCG (X) berpengaruh negatif terhadap ROE (Y2). Hal ini berarti bahwa jika variabel skor penerapan GCG ditingkatkan, maka akan menurunkan ROE sebesar 0,202,
  3. standar error (e) menunjukkan tingkat kesalahan pengganggu.

3)   Variabel NPM

Berdasarkan hasil pengolahan data diperoleh model persamaan regresi sederhana sebagai berikut:

Y3 = 0,093 + 0,001X + e

  1. konstanta sebesar 0,093 menyatakan bahwa jika nilai skor penerapan GCG = 0 (tidak ada), maka NPM akan sebesar 0,093,
  2. koefisien X (b1)= 0,001 menunjukkan bahwa GCG (X) berpengaruh positif terhadap NPM (Y3). Hal ini berarti bahwa jika variabel skor penerapan GCG ditingkatkan, maka akan meningkatkan NPM sebesar 0,001,
  3. standar error (e) menunjukkan tingkat kesalahan pengganggu.

4.3.2. Ujit

Uji–t dilakukan untuk menguji secara parsial atau individu apakah variabel independen berpengaruh secara individu (parsial) terhadap variabel dependen. Hasil uji-t adalah sebagai berikut.

1)      Variabel ROI dapat diketahui nilai probabilitas untuk variabel GCG adalah 0,61

2)      Variabel ROE dapat diketahui nilai probabilitas untuk variabel GCG adalah 0,77

3)      Variabel NPM dapat diketahui nilai probabilitas untuk variabel GCG adalah 0,85

Dari hasil uji–t, dapat diketahui variabel GCG tidak berpengaruh secara parsial terhadap kinerja keuangan yang diproksi dengan ROI, ROE dan NPM karena nilai probabilitasnya di atas 0,05.

4.4 Pembahasan Hasil Analisis

Dari berbagai pengujian yang telah dilakukan, maka hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa bila bergerak secara parsial, penerapan GCG berpengaruh negatif terhadap kinerja keuangan – ROI (Y1), ROE (Y2) dan NPM (Y3) dengan tingkat signifikansi variabel independen 0,61 (>0,05),  0,77 (>0,05), dan 0,85 (>0,05). Hal ini berarti secara parsial, semakin tinggi skor penerapan GCG (X) maka kinerja keuangan – ROI (Y1), ROE (Y2) dan NPM (Y3) semakin rendah. Hasil penelitian ini secara parsial menemukan bahwa penerapan GCG tidak berpengaruh terhadap kinerja keuangan.

Hasil penelitian ini bertolak belakang dengan tiga peneliti terdahulu yaitu Winda Putri, Yudha Pranata, dan Ridwan Frediawan yang menunjukkan bahwa penerapan GCG mempengaruhi kinerja keuangan perusahaan. Namun, hasil penelitian ini sejalan dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Irene Dumasi Siahaan yang menyatakan bahwa terdapat hubungan berlawanan arah yang tidak signifikan antara penerapan GCG terhadap kinerja keuangan perusahaan. Hubungan negatif yang terjadi antara penerapan GCG dan kinerja keuangan pada penelitian ini tidak sesuai dengan teori yang ada.

Secara teoritis, pelaksanaan GCG dapat meningkatkan nilai perusahaan dengan meningkatkan kinerja keuangannya. Kemungkinan terbesar keadaan ini terjadi karena terbatasnya informasi. Padahal untuk mengukur GCG harus mengetahui berbagai informasi tentang karakteristik, budaya dan hubungan antar organ perusahaan dan semua informasi tersebut termasuk kriteria rahasia perusahaan yang tidak dipublikasikan. Selain itu jika dilihat dari jangka waktunya, GCG lebih bersifat jangka panjang sehingga tidak dapat diukur kesuksesannya jika hanya mengandalkan satu periode akuntansi saja sedangkan perhitungan profitabilitas lebih bersifat jangka pendek, di mana hasil yang dicapai dari periode tersebut merupakan hasil tambah perusahaan yang dapat berdiri sendiri.

Dengan kata lain, bila menggunakan pendekatan GCG hasil yang didapat akan bersifat positif tanpa melihat akan keadaan perusahaan pada tahun tersebut apakah dapat menciptakan nilai bagi perusahaan atau tidak, sedangkan dengan perhitungan profitabilitas, meskipun return dan laba bersih perusahaan tampak bagus belum tentu memiliki nilai tambah bagi kegiatan operasionalnya karena bisa saja sebagian besar modal kerjanya bersumber dari pemegang saham yang dalam perhitungan kinerja keuangan konvensional dianggap sebagai modal gratis. Sehingga dengan pendekatan profitabilitas, secara rinci menjelaskan nilai ekonomis dari perusahaan.

  1. 5. Kesimpulan dan Saran

5.1 Kesimpulan

Berdasarkan berbagai pengujian dan analisis data dari penelitian ini dapat diperoleh beberapa kesimpulan mengenai pengaruh GCG terhadap kinerja keuangan adalah variabel GCG (X) tidak berpengaruh secara parsial terhadap variabel ROI (Y1), ROE (Y2) dan NPM (Y3) karena penerapan GCG berpengaruh negatif terhadap ROI (Y1), ROE (Y2) dan NPM (Y3) dengan tingkat signifikansi variabel independen 0,61 (>0,05), 0,77 (>0,05), dan 0,85 (>0,05). Artinya adalah penerapan GCG yang baik tidak berpengaruh terhadap kinerja keuangan yaitu kinerja keuangan tidak menjadi lebih baik baik dengan adanya penerapan GCG.

5.2 Saran

Beberapa saran dan rekomendasi dari peneliti antara lain:

  1. bagi peneliti selanjutnya, disarankan untuk memperluas variabel yang digunakan dalam mengukur pengaruhnya terhadap kinerja keuangan misalnya kualitas laporan keuangan,
  2. menambah jumlah sampel yang ada, sehingga tidak hanya perusahaan yang termasuk kelompok sepuluh besar menurut CGPI saja, tapi juga seluruh peserta CGPI yang ikut serta,
  3. menggunakan indikator lain selain ROI, ROE dan NPM untuk menilai kinerja keuangan suatu perusahaan.

REFERENCES

Aczel, C., 2002. Complete Statistics Business. McGraw-Hill Book Company, New York.

Ashbough, H., Collins, D., and Laford, R., 2004. “Corporate Governance the Cost of Equity Capital”, Working Paper University of Iowa.

Brigham and Gapenski, 1996. Intermediate Financial Management, Fifth Edition, Dryden.

Brigham, E. F., dan Houston, J. F., 2001. Manajemen Keuangan. Edisi Kedelapan (Terjemahan), Salemba Empat, Jakarta.

Bursa Efek Indonesia, 2008. Indonesian Capital Market Directory, INDEF, Jakarta.

Drobetz, Wolfgang, Andreas, and Heinz, 2003. “Corporate Governance and Expected Stock Returns: Evidence From Germany”, ECGI Finance Working Paper.

Erlina dan Sri Mulyani, 2007. Metodologi Penelitian Bisnis, USU Press, Medan.

Fakultas Ekonomi Universitas Sumatera Utara, Departemen Akuntansi, 2004. Buku Petunjuk Teknis Penulisan Proposal Penelitian dan Penulisan Skripsi, Medan.

FCGI, 2001. Corporate Governance: Tata Kelola Perusahaan. Edisi Ketiga, Jakarta.

Firth, M., and Rui, O., 2002. “Simultaneous Relationship Among Ownerships, Corporate Governance and Financial Performa”, Working Paper The Hongkong Polytechnic University.

Frediawan, Ridwan, 2008. “Pengaruh  Penerapan Prinsip Good Corporate Governance Terhadap Kinerja Keuangan Perusahaan (Studi Kasus pada PT Jamsostek Kantor Cabang II Bandung)”, Skripsi Akuntansi Universitas Widyatama Bandung.

Ghozali, Imam, 2002. Aplikasi Bisnis Multivariat dengan Program SPSS, Edisi Ketiga, Cetakan Kelima, BP Undip, Semarang.

Jandik, Thomas and Craig R., 2005. “The Evolution of Corporate Governance and Firm Performance in Emerging Market: The Case of Sellier and Bellot”, ECGI Working Paper Series in Finance.

Jogiyanto, 2004. Metodologi Penelitian Bisnis: Salah Kaprah dan Pengalaman-Pengalaman, BPFE Yogyakarta, Yogyakarta.

Pranata, Yudha, 2007. “Pengaruh  Penerapan Corporate Governance Terhadap Kinerja Keuangan Perusahaan”, Skripsi Akuntansi Universitas Islam Indonesia Yogyakarta.

Putri, Winda, 2006. “Analisis Pengaruh Corporate Governance dan Jumlah Komisaris Terhadap Kinerja Perusahaan”, Skripsi Akuntansi Universitas Islam Indonesia Yogyakarta.

Siahaan, Irene Dumasi, 2008. “Analisis Penerapan Good Corporate Governance Terhadap Kinerja Keuangan Perusahaan Yang Diukur Dengan Economic Value Added”, Skripsi Akuntansi Universitas Widyatama Bandung.

Sugiyono, 2007. Metode Penelitian Bisnis, Edisi Pertama, Cetakan Kesepuluh, CV. Alfabeta, Bandung.

Sulistyanto, Sri, 2003. “Good Corporate Governance: Berhasilkah diterapkan di Indonesia?”, Jurnal Widya Warta No.2 Tahun XXVI/Juli 2003.

SWA No. 04/XX/19 Februari – 3 Maret 2004.

SWA No. 09/XXI/28 April – 11 Mei 2005.

Tjager, I.N., Alijoyo, F. A., Djemat, H.R., dan Soembodo, B., 2003. Corporate Governance. Prenhallindo, Jakarta.

Tunggal, Imam Sjahputra dan Amin Widjaja Tunggal, 2002. Membangun Good Corporate Governance. Harvarindo, Jakarta.

Umar, Husein, 2001. Riset Akuntansi: Metode Riset sebagai Cara Penelitian Ilmiah, Gramedia Pustaka Utama. Jakarta.

Umar, Husein, 2008. Metode Penelitian Untuk Skripsi dan Tesis Bisnis, PT Raja Grafindo Persada, Jakarta.

Zhuang, 2000. “Corporate Governance and Finance in East Asia: A Study of Indonesian, Republic of Korea and Thailand”, Asia Development Bank.

http://www.iicg.org

About these ads

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s